Jumat, 15 Maret 2013

RESENSI NOVEL AYAT AYAT CINTA



a.    Judul resensi                      :           Indahnya Cinta dalam Balutan Islam

b.    Identitas buku, meliputi    :
1.      Judul buku                              :           Ayat Ayat Cinta
2.      Nama pengarang                     :           Habiburrahman El Shirazy
3.      Tempat penerbitan buku         :           Jakarta, Penerbit Republika
4.      Tahun penerbitan                    :           2004
5.      Tebal buku                              :           20, 5 x 13, 5 cm
6.      Jumlah halaman                       :           420 halaman
7.      Harga buku                             :           Rp 43. 500, 00
c.    Isi buku / sinopsis singkat.
Novel ini bercerita tentang kisah percintaan yang di balut dalam ajaran-ajaran islaminya yang sangat kental. Kisah berawal dari seorang mahasiswa bernama Fahri bin Abdullah Shiddiq. Ia adalah seorang mahasiswa Universitas Al-azhar, Mesir.
Di Mesir Fahri tinggal bersama dengan keempat temannya yang juga berasal dari Indonesia. Mereka tinggal di apartemen sederhana. Mereka mempunyai tetangga yang sangat baik dan akrab dengan mereka, yaitu keluarga Tuan Boutros. Tuan Boutros mempunyai istri bernama Madame Nahed, dan dua orang anak mereka Maria dan Yousef. Keluaraga Tuan Boutros adalah keluarga Kristen Koptik yang sangat taat. Putri sulung mereka yang bernama Maria, ia gadis yang unik. Ia seorang Kristen Koptik, namun ia suka pada Al-Quran. Ia bahkan hafal beberapa ayat Al-Quran, diantarnnya adalah surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga.
Pertemuan berawal ketika Fahri pergi ke Shubra El-Kaima untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Ia pergi  kesana naik metro, dan disitulah awal Fahri bertemu dengan perempuan bercadar yang bernama Aisha. Aisha bukanlah orang Mesir, melainkan gadis asal Jerman yang sedang studi di Mesir.
Selain mempunyai tetangga yang baik, Fahri juga mempunyai tetangga yang sangat galak dan kasar. Kepala keluarga itu bernama Bahadur. Bahadur mempunyai istri bernama madame Syaima dan putri bungsunya Noura. Bahadur selalu bersikap kasar dengan Noura. Malam itu Fahri ingin menolong Noura yang sedang jadi bulan-bulanan oleh Bahadur, tapi Fahri tidak bisa menolongnya, lalu dia meminta bantuan Maria, akhirnya Maria mau menolong Noura. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingi menolongnya. Sayang hanya empati saja, tidak lebih.
Maria tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al-Quran, dan mengagumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja.
Nurul adalah anak seorang Kyai terkenal yang juga mencari ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis itu. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah mengungkapkan perasaanya pada Nurul. Padahal Nurul juga menaruh hati pada Fahri, tapi Nurul juga tidak sanggup mengungkapkan perasaanya kepada Fahri.
Muncullah Aisah, si mata Indah yang menyihir Fahri sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku. Aisah jatuh cinta pada Fahri, dan juga Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.
Mereka berdua menikah, dijodohkan oleh pamannya Aisha. Mereka hidup bahagia. Beberapa bulan kemudian Aisha dinyatakan mengandung. Tak lama kemudian, Fahri dapat kabar kalau Maria koma. Belum sempat menjenguk Maria, malapetaka datang menghampiri rumah tangga mereka. Noura menuduh Fahri telah memperkosanya. Semua orang tahu bahwa itu adalah fitnah. Fahri diseret, dan dimasukkan ke penjara. Kuncinya semua ini adalah Maria yang sedang koma. Dia mengetahui bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Keluarga Boutros mendatangi Fahri di penjara, mereka berniat mengunjungi Fahri dan juga ingin meminta bantuan kepada Fahri untuk menyadarkan Maria dari komanya, dengan menrekam suara Fahri dan nantinya akan didengarkan ke Maria. Kata dokter hanya orang yang dicintai Maria yang dapat menyembuhkannya. Tak kunjung sadar juga, akhirnya dokter dan madame Nahed mneyuruh Fahri untuk menyatakan cintanya kepada Maria. Sebelumnya Fahri tidak mau melakukan itu, lalu Fahri meminta izin kepada Aisha, akhirnya Aisah menyetujuinya. Setelah itu, Fahri langsung menikahi Maria. Setelah beberapa saat kemudian, Maria sadar.
Sidang penentuan tiba, diakhir persidangan Maria tiba. Dia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Setelah mengatakan itu semua, Maria pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Fahri memenangkan sidang tersebut, dan Bahadur dimasukkan penjara.
Begitu divonis bebas, Fahri dibawa oleh Aisha ke rumah sakit yang sama dengan Maria untuk diperiksa. Sejak selesai dari persidangan itu, Maria belum sadarkan diri juga. Beberapa saat kemudian, Aisha mendengar Maria mengigau kalau dia ingin masuk surga, tapi tidak diperbolehkan. Lalu ia terbangun dan menceritakan itu semua pada Aisha dan juga Fahri. Fahri tau apa yang dimaksudkan oleh Maria, lalu ia membopong Maria ke kamar mandi dan Aisha membantu untuk mewudhui Maria. Selesai itu Maria kembali dibaringkan di atas kasur seprti semula. Lalu dengan suara lirih yang keluar dari relung jiwa ia melafalkan syahadad. Tak lama kemudian, kedua matanya tertutup rapat dan akhirnya Maria meninggal dunia.


d.    Kelebihan dan kelemahan buku.
·         Kelebihan :
1. Novel ini mengajarkan kehidupan Islami yang sangat kental sekali, bisa menjadi motivasi orang-orang yang membacanya.
2. Novel ini menggunakan bahasa arab, dan disetiap halaman yang ada bahasa arabnya, di bawahnya pasti ada terjemahannya.
3. Ayat Ayat Cinta mengajak kita untuk lebih jernih, lebih cerdas dalam memahami cakrawala keislaman, kehidupan, dan juga cinta.
·         Kelemahan :
1.      Tokoh utama Fahri, yang hanya laki-laki biasa dan anak seorang petani dicintai oleh empat orang wanita sekaligus. Dalam kehidupan nyata hal ini mustahil terjadi. Kesannya Fahri digambarkan sebagai laki-laki yang hampir sempurna.
2.      Maria yang jatuh sakit berminggu-minggu bahkan sampai koma, cuma karena ditolak citanya oleh Fahri. Dalam kehidupan nyata hal ini terlalu berlebihan.
e.    Kelebihan dan kelemahan buku bisa kita lihat dari isi, bahasa, dan kemasannya.
1)      Isi, meliputi kualitas, kelengkapan, dan kebaruan.
Kualitasnya sangat baik, diterbitkan di Jakarta oleh Penerbit Republika. Novel ini menurut saya juga sudah lengkap, mulai dari cover depan sampai belakang. Kebaruan, novel ini bisa dikatakan sudah lama, cetakan pertama terbit desember tahun 2004, dan cetakan terakhir yang saya lihat april 2008.
2)      Bahasa, meliputi kelancaran, ketepatan, dan komunikatifan bahasa.
Novel ini ditulis dengan bahasa lancar dengan tokoh-tokoh yang “hidup” dalam berbagai karakter, membuat novel ini tidak hanya sekedar dibaca sebagai cerita picisan atau romantisme biasa, melainkan membaurkan pengetahuan atas hidup dan berkehidupan secara indah. Ketepatan dalam mengolah kata-kata sangat tepat, membuat cerita dalam novel ini terasa benar-benar terjadi. Bahasanya juga komunikatif, mudah dipahami oleh pembacanya. Di dalam novel ini ada bahasa arabnya juga, dan dibawahnya ada artinya  jadi memudahkan si pembaca memahmi isinya.
3)      Kemasan buku.
Novel ini dikemas dengan sangat baik. Sebelum membaca isinya, pembaca disuguhkan dengan komentar-komentar orang yang sudah membaca novel tersebut, jadi menambah keinginan saya untuk mengetahui bagaiman isi ceritanya.
f.     Perbandingan dengan fiksi lain.
Menurut saya novel Ayat Ayat Cinta ini ceritanya sangat menyentuh. Dibandingkan dengan novel-novel yang sudah saya baca sebelumnya, novel ini lebih bisa memotivasi saya dalam hal keislaman. Novel ini tidak saja menceritakan kehidupan percintaan seperti novel-novel tentang cinta yang lain, tapi novel ini mengenalkan bagaimana percintaan menurut islam yang sebanar-benarnya. Novel ini memang sangat bagus isi ceritanya, tidak hanya menggambarkan kehidupan seseorang yang sangat sederhana, tetapi juga mengajarkan kepada kita betapa pentingnya hidup di jalan Allah, hidup hanya benar-benar untuk Allah S.W.T.


g.    Arah dan saran pemilihan buku.
Novel ini sangat bagus untuk dibaca, menambah pengetahuan tentang Islam yang sesungguhnya dan mengajari kita tentang banyak hal yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya.
h.    Unsur bahasa yang digunakan.
1.      Tema : Cinta Penuh Pengorbanan
2.       Tokoh : Fahri, Maria, Aisha, Nurul, Noura, Saiful, Rudi, Hamdi, Mishbah, keluarga Tuan Boutros, Bahadur,
3.      Plot / alur : Maju.
4.      Perwatakan :
·         Fahri : Rajin, pintar, sabar, terencana, tepat waktu, ikhlas, ulet, penolong, sholeh, aktifis, pintar dalam memimpin, lurus, penuh dengan target.
·         Maria : Ceria, suka bergurau, rajin, pintar, tapi fisiknya lemah, manja tertutup.
·         Aisah : Orangnya lembut, sabar, ikhlas, terencana, pintar, sholehah, serba mewah.
·         Nurul : Rajin, pintar, pemalu , tidak terbuka, kaku, emosi, sholehah.
·         Noura : Orangnya tertutup, sulit di tebak,pintar, tapi dia kejam, emosi, pendiam.
·         Keluarga Tuan Boutros : Baik hati, sopan, suka menolong, tidak sombong walaupun orang kaya.
·         Bahadur : Kasar, semena-mena pada anak, suka memfitnah.
·         Teman Fahri (Saiful, Rudi, Hamdi, Mishbah) : Baik, tekun, pintar, rajin, sholeh.
5.      Setting / latar : Mesir, Kairo, Al-Azhar, flat, masjid, restoran, metro, penjara, rumah sakit, Alexandria.
6.      Amanat : Semakin banyak ilmu yang kita dapat, maka semakin banyak pula hambatan, godaan yang harus kita lewati dan dipecahkan dengan hati yang sabar dan yakin akan ada hikmahnya.
7.      Sudut pandang : Aku orang ke 1

i.      Tujuan pengarang dan tujuan resentator.
Tujuan pengarang, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam.
Tujuan saya meresensi novel ini, yaitu untuk memenuhi tugas kuliah saya, mata kuliah Membaca Komprehensif.
j.      Harapan dan saran resentator.
Harapan saya, semoga setelah membaca novel Ayat Ayat Cinta ini, semua dapat termotivasi agar menjadi orang yang lebih baik.
Saran buat kalian semua yang belum membaca novel ini, cobalah baca maka kalian semua akan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Buku adalah jendela dunia, itu benar sekali. Dengan membaca novel ini, kita bisa mengetahui Mesir dan apa saja yang ada di sana.
k.    Kesimpulan, berisi kualitas keseluruhan isi buku.
Novel ini tidak saja menceritakan kehidupan percintaan seperti novel-novel tentang cinta yang lain, tapi novel ini mengenalkan bagaimana percintaan menurut islam yang sebanar-benarnya. Novel ini memang sangat bagus isi ceritanya, tidak hanya menggambarkan kehidupan seseorang yang sangat sederhana, tetapi juga mengajarkan kepada kita betapa pentingnya hidup di jalan Allah, hidup hanya benar-benar untuk Allah S.W.T. Seperti yang sudah saya katakan tadi sebelumnya. Mengajarkan kita betapa susahnya perjuangan seorang mencari ilmu di negeri orang.

2 komentar: